fbpx
Ilustrasi seseorang menderita penyakit mental
Ilustrasi seseorang menderita penyakit mental

Perkembangan teknologi membuat banyak perubahan dalam kehidupan manusia. Terutama dengan lahirnya media sosial yang merubah kebiasaan manusia. Hadirnya media sosial memberikan beragam manfaat. Media sosial bisa dijadikan media untuk belajar, media untuk bereksplorasi, bahkan media untuk kegiatan ekonomi. Kini sudah banyak pihak yang menjadikan media sosial bisa sebagai lahan untuk mencari nafkah.

Indonesia dengan keanekaragaman masyarakatnya bersatu dalam lingkup media sosial. Tak heran kini semakin terasa pergeseran budaya, norma, dan etika yang berlaku. Berbagai perbedaan dari segi kebudayaan, suku, ras, dan agama. Perbedaan seperti itulah semakin mempengaruhi pergeseran tersebut.

Berbagai kalangan masyarakat Indonesia, sudah terbiasa menggunakan media sosial. Mulai dari beragam kelas usia, kelas ekonomi, hingga beragam kepentingan dalam penggunaannya. Media sosial sendiri dikenal sebagai media yang memfasilitasi seseorang untuk menjalin jaringan, berbagi informasi, dan menciptakan suatu konten. Bentuknya pun sangat beragam, mulai dari yang berbasis teks, foto, hingga video.

Media sosial berdampak cukup penting bagi aktivitas sehari-hari. Dampak positif yang diberikan dengan adanya media sosial ialah mempermudah manusia untuk berinteraksi dengan banyak orang tanpa harus mengkhawatirkan jarak dan waktu. Sehingga dapat memperluas jaringan dengan lebih mudah. Selain itu juga memberikan fasilitas untuk bebas mengekspresikan diri, menghibur diri, hingga memperluas wawasan diri.

Memberikan dampak positif tentu lengkap dengan dampak negatifnya yaitu menjauhkan orang-orang yang sudah dekat karena teknologi pengguna akan terjebak pada kenyamanan yang sebenarnya bisa menjerumuskan. Selain itu juga bisa menimbulkan kecanduan yang pada akhirnya dapat menciptakan masalah lain, diantaranya konflik, perubahan mood, bahkan bisa juga menyebabkan sakit mental.

Sadar ataupun tidak media sosial sudah berhasil mempengaruhi pola sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Adanya perubahan keseimbangan hubungan dengan diri sendiri atau dengan orang lain. Termasuk didalamnya cara, sikap, dan nilai-nilai dalam berkomunikasi atau mencari informasi. Tentu saja hal-hal seperti itu dipengaruhi oleh latar berkalang watak seseorang.

Dinamika kehidupan dalam bermasyarakat semakin lama semakin berkembang. Masyarakat semakin dinamis seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat. Budaya yang beraneka ragam ditambah dengan akses informasi yang semakin bebas, luas, dan cepat. Aksi dan reaksi dalam media sosial berjalan bebas bahkan terkesan di luar batas. Penyampaian pendapat atau ide, yang kemudian direspon dengan komentar baik berupa saran maupun kritik, yang sering terjadi dengan kalimat ujaran kebencian. Setiap saat hal-hal seperti itu bisa dengan mudah dijumpai di berbagai jenis jejaring sosial.

Baca juga : Enlightening! 6 Useful (Web Portal) Berita di Indonesia

Penggunaan media sosial yang bermasalah

Penggunaan media sosial saat ini seakan sudah menjadi kebutuhan yang setara dengan kebutuhan pokok. Sandang, pangan, dan papan, ditambah dengan kegiatan bermedia sosial. Memang terkesan berlebihan, tapi tidak bisa dibantah bahwa memang ada golongan orang yang seperti itu. Setiap harinya pasti membuka media sosial walaupun hanya untuk scroll timeline. Kegiatan yang sebenarnya tidak terlalu penting tapi sudah menjadi kebiasaan.

Selain itu ada juga anggapan bahwa orang yang tidak menggunakan media sosial akan dicap gaptek atau ketinggalan zaman. Padahal tidak seperti itu, mengikuti perkembangan zaman bukan berarti harus update di media sosial, bukan juga harus memiliki seluruh akun di setiap media sosial. Bahkan penggunaan media sosial yang berlebihan akan menimbulkan gangguan mental. Bukannya memanfaat kemudahan yang ada karena teknologi malah berbanding terbalik merugikan diri sendiri.

Menurut wikipedia ketergantungan psikologis atau perilaku terhadap jenis media sosial apapun dapat berdampak memunculkan gangguan terhadap pribadi seseorang jika terjadi dalam jangka waktu yang cukup panjang. Pada akhirnya banyak yang akan terjadi dan kemungkinan keadaan semakin buruk, dalam hal ini berdampak pada kesehatan mental seseorang. Keadaan seperti ini bukan hanya terjadi pada wanita yang identik lebih familiar dengan media sosial, melainkan terjadi juga pada pria.

Bisa ditandai ketika seseorang lebih mementingkan untuk memeriksa keadaan akun jejaring sosial dibandingkan memprioritaskan hal-hal yang seharusnya. Menunjukkan bahwa seseorang tersebut sudah tidak bertanggung jawab dengan dirinya sendiri.

Baca juga : 8 Inspirasi Desain Feed Instagram yang Eye-Cathing dan Impressive

Penyakit mental akibat media sosial

Penggunaan media sosial yang salah sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Berbagai penyakit mental bisa terjadi baik kepada wanita maupun pria dengan kemungkinan yang sama besarnya. Jenis penyakit seperti ini akan mempengaruhi seseorang dalam menghadapi permasalahan di media sosial, berkomentar terhadap status orang lain, tingkat emosi, pola pikir, dan perilakunya. Seperti seseorang yang terlalu sering membuka media sosial, tetapi di waktu yang sama memiliki ketakutan untuk melihat postingan orang lain.

Merasa insecure, timbul keinginan untuk menyaingi dengan segala cara, bahkan mewajibkan setiap momen harus selalu diposting dan diketahui orang lain, sehingga memenuhi kepuasan diri. Kadang kala ketika seseorang merasakan mengalami hal tersebut menganggap biasa saja, bisa dibilang tidak menyadari hal tersebut bisa mengindikasikan penyakit mental. Terlalu larut dalam kebiasaan sehingga menganggap biasa saja.

Kejadian seperti itu membuat penggunaan media sosial harus disadari batasnya. Menerapkan jadwal untuk membuka jejaring sosial bukan ide buruk. Jangan sampai perkembangan teknologi berdampak buruk terhadap kesehatan mental. Jika sampai terjadi jangan sampai dibiarkan begitu saja, akan lebih baik dicegah sebelum semuanya terjadi. Berikut merupakan 5 penyakit mental yang bisa timbul akibat kesalahan penggunaan media sosial :

1. Borderline Personality Disorder

Ilustrasi penderita Borderline Personality Disorder (BPD)
Ilustrasi penderita Borderline Personality Disorder (BPD)

(BPD)Borderline Personality Disorder merupakan gangguan mental yang ditandai ketika seseorang memiliki perilaku dan suasana hati yang mengambang, artinya sangat tak jelas keadaannya alias tidak stabil. Penderita penyakit ini akan merasa orang lain lebih baik atau lebih bisa daripada dirinya sendiri. Timbul perasaan iri, dan minder ketika melihat keadaan orang lain. Pada konteks di media sosial yaitu ketika penderita merasa insecure melihat postingan orang lain, terlebih jika orang tersebut dekat baik secara hubungan darah, umur, atau yang lainnya. Biasanya akan merasa kesal dan kecewa dengan diri sendiri. Hingga akhirnya memutuskan untuk lebih tertutup dan menarik diri dari pergaulan karena merasa kurang pantas.

2. Social Media Anxiety Disorder

Ilustrasi penderita Social Media Anxiety Disorder
Ilustrasi penderita Social Media Anxiety Disorder

Social Media Anxiety Disorder merupakan penyakit mental gang ditandai dengan hasrat berlebihan atau sebuah obsesi. Penderitanya akan sangat kecanduan membukan akun jejaring sosial walaupun tak mengetahui ingin melihat atau mengecek apa. Dimanapun, kapanpun, dan dengan siapapun akan berusaha untuk membuka jejaring sosial tanpa memperdulikan keadaan sekitar. Terobsesi untuk memiliki likes, views, atau follower yang tinggi, sehingga rasanya “geregetan” mengecek akun secara terus menerus. Keadaan akan semakin memburuk jika realita tidak sesuai ekspektasi, apalagi jika ada komentar yang menghujat.

3. Addiction

Ilustrasi penderita Addiction
Ilustrasi penderita Addiction

Addiction memiliki keadaan yang serupa dengan Social Media Anxiety Disorder, tetapi tentu saja tidak sepenuhnya sama. Addiction merupakan penyakit mental yang berhubungan dengan candu dan obsesi, hanya saja lebih condong pada kecanduan terhadap suatu konten dan terobsesi untuk melihat secara terus menerus. Contohnya saja memiliki keinginan menonton YouTube secara terus menerus, selain itu juga memiliki keingin untuk melihat konten media sosial lainnya terlalu sering.

Penderita penyakit mental jenis ini akan mengalami kesulitan tidur karena terus menerus bermain jejaring sosial walaupun sebenarnya mata sudah lelah. Tanda lainnya yaitu kehilangan fokus karena terus menerus teringat akan konten sehingga terkesan “terngiang-ngiang” dalam pikiran. Pada akhirnya semua hal tersebut akan membuat individu semakin malas dan tidak produktif. Bukan hanya itu, tetapi juga akan lebih menyukai interaksi di dunia maya dibandingkan dengan dunia nyata.

4. Munchausen Syndrome

Ilustrasi penderita Munchausen Syndrome
Ilustrasi penderita Munchausen Syndrome

Munchausen Syndrome merupakan jenis penyakit mental yang ditandai dengan keadaan seseorang yang senang membuat segala macam sensasi. Keadaan seperti ini memang sering kali sulit untuk diidentifikasi. Maka orang lain lah yang akan lebih peka dengan keadaan tersebut, terlebih jika orang tersebut memang dari lingkup lingkungan yang dekat. Segala jenis kebohongan akan lebih mudah diidentifikasi jika dari seseorang yang dekat karena kurang lebih mengetahui keadaan aslinya.

Penderita cenderung suka untuk mengarang cerita atau keadaan agar terlihat jauh lebih baik daripada orang pada umumnya. Bisa juga dengan keadaan yang menyedihkan atau tragis. Tentu saja hal tersebut dilakukan agar mendapatkan perhatian lebih dari para pengguna jejaring sosial lainnya. Jenis perhatian yang disukai biasanya followerz yang meningkat, jumlah likes bertambah, dan banyak likes.

5. Fear of Missing Out (FoMO Syndrome)

Ilustrasi penderita FoMo
Ilustrasi penderita FoMo

FoMO Syndrome merupakan jenis penyakit mental ketika seseorang mengalami kecanduan. Berbeda dengan addiction, kecanduan pada FoMo lebih tertuju pada jenis tren di media sosial. Misalnya tren spot foto, tren gaya foto, tren konsep foto, dan masih banyak lagi. Penderita akan mengalami kecemasan selama tren tersebut belum terlaksana. Bahkan bisa timbul akibat hal-hal kecil seperti konektivitas internet tidak stabil atau ketika tiba-tiba akses terputus. Kecemasan yang dibuat, lama kelamaan akan semakin membahayakan bagi penderita. Tentu saja akan mengganggu aktivitas dan produktivitas sehari-hari.

Itulah lima penyakit mental yang sering terjadi akibat kesalahan menggunakan media sosial. Sebagai pengguna kita harus bisa lebih peka mengidentifikasi setiap keadaan agar terhindar dari segala macam penyakit mental. Bijak dalam penggunaan perlu diterapkan agar setiap dampak bisa dikendalikan.

Baca artikel menarik lainnya hanya di bootsol

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top