fbpx

Traditional marketing, apakah akan tergeser dengan digital marketing?

Sumber: kumparan

Masih ingatkah kamu dengan slogan “Kepak Sayap Kebhinekaan?”. Slogan tersebut sempat viral beberapa waktu lalu ketika sebuah baliho dalam papan reklame yang memperlihatkan ketua DPR RI, Puan Maharani dengan tulisan “Kepak Sayap Kebhinekaan” tertulis di dalamnya. Warga menilai, baliho tersebut digunakan untuk mendongkrak popularitas Puan sebagai dirinya sekarang menuju Pemilu yang akan datang.

Tenang, kita tidak akan membahas mengenai perpolitikan yang terjadi, justru kita akan lebih mendalami mengenai baliho tersebut. Tahukah kalian, baliho merupakan salah satu contoh dari traditional marketing? Sejatinya, baliho digunakan untuk kegiatan persuasif, artinya ia memiliki tugas supaya orang-orang bisa melakukan sesuatu setelah melihat pesan yang ada dalam baliho tersebut. Contohnya, produk mie lokal mengiklankan brand-nya menggunakan baliho di papan reklame. Perusahaan mie tersebut pasti menginginkan supaya orang-orang yang melihat iklannya bisa membeli produk yang ditampilkan di baliho. Itulah persuasif.

Selain baliho, contoh lainnya adalah iklan di koran, brosur, radio hingga televisi. Ketika kita membicarakan tentang traditional marketing, artinya kita sedang membicarakan iklan. Kedua hal tersebut tidak dapat dipisahkan. Pertanyaannya adalah apakah iklan menggunakan traditional marketing masih efektif di zaman sekarang yang sudah serba digital? Apakah masih ada peminatnya? Lalu, apa kekurangan dan kelebihannya? Untuk menjawab pertanyan pertanyaan tersebut, yuk langsung simak saja penjelasan mengenai traditional marketing berikut ini.

Apa Itu Traditional Marketing?

Contoh traditional marketing adalah papan reklame.

Dilansir dari Warta Ekonomi, traditional marketing (pemasaran tradisional) adalah sebuah strategi pemasaran yang menggunakan alat dan sarana yang memiliki rupa fisik seperti pemasangan papan reklame di jalan, menempelkan brosur di tembok, interaksi secara tatap muka, dll. Sederhananya, pemasaran secara tradisional ini merupakan kebalikan dari digital marketing dimana semua bentuk pemasarannya terlihat, bisa diraba, atau ada bentuknya. Berbeda dengan digital yang bentuk pemasarannya berupa hal-hal yang berbau digital, ada di gadget tanpa bisa kita rasakan tesktur atau semacamnya (tidak bisa diraba).

Di era digital seperti sekarang, nyatanya pemasaran secara tradisional masih diminati oleh banyak orang. Mereka bisa menempatkan iklannya pada papan reklame di pinggir jalan atau jika memiliki uang lebih, bisa langsung saja menampilkan iklannya di televisi. Traditional marketing menampilkan banyak gambar daripada tulisan karena gambar dipercaya mencerminkan seribu makna.

Apakah Masih Efektif Menggunakan Traditional Marketing untuk Promosi Produk?

Gambar via Unsplash

Ini adalah pembahasan yang cukup penting bagi kamu yang memiliki usaha atau produk dan ingin memperluas jaringan konsumenmu. Tentunya produk yang dimiliki ingin dikenal oleh banyak orang dan mendapatkan keuntungan yang besar. Maka, kamu harus cermat untuk mengiklankan produknya secara digital atau tradisional. Mari kita bahas satu persatu.

Digital marketing adalah bentuk pemasaran berbasis digital yang dibantu dengan jaringan internet. Sederhananya kamu tinggal upload atau posting saja iklan yang sudah dibuat. Let’s face it, seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin maju, banyak perusahaan yang cenderung memilih untuk memasarkan produknya secara digital. “Hari gini siapa sih yang gak punya gadget? Hari gini siapa sih yang gak punya medsos?”. Kira-kira begitu alasan kuat bagi para pebisnis yang menggunakan strategi digital untuk memasarkan produknya.

Kelebihannya memang iklan yang ditampilkan secara digital ini terkesan lebih personal. Hal ini disebabkan karena iklan tersebut langsung menuju target sasarannya melalui gadget dan media sosial yang ia pakai. Selain itu, kamu sebagai pelaku bisnis bisa mengetahui dengan akuran media mana yang cocok digunakan untuk melakukan pemasaran. Kelebihan lainnya adalah tentu saja dari biaya pemasangannya yang relative lebih murah dan tidak perlu ribet.

Namun, tidak ada yang sempurna di dunia ini, begitupun dengan digital marketing. Kekurangan yang dimilikinya yaitu target pasarnya haruslah orang-orang yang sudah melek teknologi. Gak mungkin dong kita memasarkan produk lewat internet, tapi target pasar kita sama sekali tidak mengetahui internet. Alhasil, upaya pemasaran kita dirasa percuma. Selain itu, kekurangan lainnya adalah pengguna media sosial biasanya terganggu dengan beragam iklan di medsos mereka. Alih-alih ingin beli, mereka malah main skip aja. Oleh sebab itu, membuat iklan tidak boleh sembarangan. Buatlah iklan yang menarik dan menyentuh hati.

Baca Juga: Spoiler 5 Jenis Konten Marketing dan Manfaatnya Untuk Improve Pemasaran Produk Mu!

Gambar via Unsplash

Adapun traditional marketing, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, menggunakan strategi tradisional untuk memasarkan produk. Keunggulannya terletak pada target pasarnya yang tidak personal seperti digital marketing. Hal ini justru memungkinkan semua orang bisa melihat iklan yang ditampilkan di jalan atau koran. Bisa saja, orang yang tadinya hanya ingin baca koran, tertarik untuk membeli produk kamu karena melihat iklannya dipasang disana. Selain itu, traditional marketing cenderung tidak membingungkan. Iklan dalam digital marketing biasanya berbentuk pop up yang tiba-tiba muncul di media sosial. Hal ini terkadang membuat bingung penggunanya.

Sama halnya dengan digital marketing, pemasaran secara tradisional ini juga memiliki kekurangan.  Kekurangan yang paling menonjol adalah biayanya yang relative lebih mahal karena harus mencetak flyer atau balihonya. Belum lagi biaya sewa pemasangan papan reklame. Selain itu, iklan yang ditampilkan seperti itu bersifat searah, artinya pembeli tidak bisa merespon langsung iklan tersebut. Berbeda dengan digital yang ketika iklannya muncul, pembeli bisa langsung memesan produk yang ditawarkan.

Okay, sekarang kamu sudah tahu kelebihan dan kekurangan digital dan traditional marketing. Jadi kamu mau pakai yang mana? You decide!

Baca Juga: Super 5 Strategi Bisnis di Tahun 2022 yang Wajib Kamu Pahami.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

EnglishIndonesianMalay
Scroll to Top