fbpx

Sebagian orang masih belum sadar akan bahaya headset. Headset merupakan benda pengeras suara yang digunakan di telinga. Hal ini membantu dalam beberapa hal terutama kebutuhan hiburan seperti mendengarkan musik, menonton film, menonton YouTube atau hal lain dalam beberapa perangkat seperti handphone atau laptop. Terlebih, di situasi pandemi seperti sekarang memaksa setiap orang untuk tetap di rumah dalam setiap aktivitasnya termasuk memenuhi kebutuhan akan hiburan atau hal lain seperti sekolah online, meeting, dan kesibukan lain. Hal ini memicu penggunaan headset yang semakin sering digunakan dalam setiap aktivitas. Namun, disisi lain headset juga bisa memicu beberapa gangguan akibat memakai headset terlalu sering.

Terkait bahaya headset, Organisasi Kesehatan Dunia WHO menyebutkan di tahun 2015 diperkirakan miliaran anak di dunia terancam mengalami ganguan pendengaran akibat kebiasan mendengarkan sesuatu dengan cara tidak baik. Ini disebabkan adanya paparan suara yang membahayakan akibat perangkat audio personal seperti headset dan perangkat sejenis lainnya (sekitar 50 persen).

Kebiasaan menggunakan headset memang memiliki beberapa dampak buruk terutama munculnya gangguan dalam telinga. Tak jarang saking asyiknya menggunakan headset, orang-orang tidak sadar akan beberapa gangguan yang berpotensi muncul akibat menggunakan headset. Terlebih, sebaik apapun kualitas headset tidak ada jaminan bagi seseorang untuk terhindar dari gangguan-gangguan yang bisa muncul kapan saja. Untuk menghindari beberapa dampak buruk akibat yang bisa ditimbulkan, yuk simak beberapa gangguan akibat memakai headset terlalu sering.

Tinnitus

Bahaya Headset Tinnitus

Salah satu bahaya Headset adalah Tinnitus. Pada dasarnya, Tinnitus bukanlah sebuah penyakit, melainkan gejala dari kondisi lain yakni seperti gangguan pada organ dalam telinga, efek samping obat-obatan, maupun gangguan di dalam pembuluh darah. Tinnitus adalah kondisi telinga berdengung, berdesir, atau suara-suara yang terdengar berasal dari telinga atau kepala.  Tinnitus bukanlah sebuah masalah serius, melainkan gangguan yang akan menghilang dalam beberapa waktu, namun adanya Tinnitus bisa dijadikan sebuah tanda akibat perilaku yang tidak sehat, ataupun adanya penyakit dalam tubuh.

Salah satu penyebab terjadinya Tinnitus adalah penggunaan alat pengeras suara seperti headset atau perangkat lain. Dalam beberapa studi menjelaskan bahwa perilaku mendengarkan suara keras melalui perangkat seperti headset yang dilakukan lebih dari 3 jam dapat meningkatkan resiko terjadinya Tinnitus.

Lebih lanjut, penelitian yang dipublikasikan Noise & Health menunjukan bahwa remaja-remaja yang sering mendengarkan musik menggunakan headset dalam kurun waktu yang lama dapat menyebabkan Tinnitus.

Gangguan Pendengaran Akibat Memakai Headset Terlalu Sering

Gangguan yang muncul akibat memakai headset terlalu sering selanjutnya adalah gangguan pendengaran. Memang, penggunaan headset secara berlebihan rentan menyebabkan gangguan pendengaran. Hal ini akibat adanya kontak langsung perangkat pengeras suara terhadap telinga. Salah satu bahaya headset terkait gangguan pendengaran adalah NIHL (noise-induced hearing loss)

NIHL adalah gangguan pendengaran yang disebabkan saat struktur sensitif organ telinga bagian dalam mengalami kerusakan akibat kebisingan atau adanya suara-suara yang terlalu keras. Dalam prosesnya, NIHL bisa terjadi secara langsung, atau bertahap dalam kurun beberapa waktu.

NIHL bisa terjadi pada satu atau kedua telinga dan bersifat sementara juga permanen. Ketika pengidap tidak menyadari adanya gangguan tersebut, pengidap kemungkinan besar akan mengalaminya dikemudian hari yang mana dapat berdampak buruk terhadap aktivitas seperti kesusahan dalam mendengarkan orang berbicara, maupun aktivitas lainnya. Gangguan ini bisa terjadi pada siapa saja dalam segala usia.

Tentu bahaya ini bisa terjadi akibat memakai headset yang terlalu sering, sehingga telinga menerima suara yang keras dan berdampak buruk pada organ sensitif dalam telinga. Berdasarkan studi Noise & Health, 10% dari 280 remaja yang diteliti memiliki kebiasaan mendengarkan musik melalui headset, bahkan saat tidur. Kebiasan-kebiasaan tersebut dapat memicu resiko terjadinya NIHL di kemudian hari.

Jerawat

Jerawat Akibat Bahaya Pemakaian Headset Terlalu Sering

Banyak orang tidak sadar bahwa jerawat merupakan salah satu gangguan akibat memakai headset terlalu sering. Jerawat menjadi momok bagi banyak orang karena mengganggu penampilan dan terkadang sakit jika disentuh. Jerawat adalah keadaan di mana terjadinya penyumbatan pada pori-pori kulit yang menimbulkan kantung nanah yang meradang.

Salah satu penyebabnya adalah bakteri, atau yang disebut dengan P. acne yang biasanya berkembang dalam kelenjar sebaceous yang tersumbat. Hal ini kemudian menghasilkan zat-zat yang menimbulkan iritasi. Saat kelenjar tersebut terus mengalami pembengkakan, dan mungkin akan pecah sehingga menyebabkan peradangan pada daerah kulit sekitar dan menyebabkan munculnya jerawat.

Baca juga: Fantastic! Ketahui: 5 Hal Terkait Teknologi di Masa Pandemi Super Functional

Penggunaan headset adalah salah satu perangkat yang bisa saja menyebabkan munculnya bakteri pada kulit. Seperti layaknya saat menggunakan topi yang membuat munculnya jerawat disekitar dahi, atau penggunaan kacamata yang memunculkan jerawat di kulit sekitar mata, headset juga bisa menimbulkan efek yang sama. Terlebih, banyak orang menggunakan headset saat olah raga, sehingga meningkatkan potensi adanya bakteri pada headset. Salah satu upaya untuk mencegah hal ini adalah dengan rajin membersihkan headset sebelum digunakan atau setelah digunakan.

Radiasi Akibat Bahaya Headset

Radiasi Akibat Bahaya Headset

Bahaya headset lainnya adalah terpapar radiasi. Semua headset atau perangkat sejenis dan ponsel memang memiliki potensi memaparkan radiasi. Dalam PC Magazine, dijelaskan bahwa pancaran radiasi pada headset dapat menyebabkan bahaya jangka panjang seperti kerontokan rambut, tumor otak, dan beberapa dikaitkan pada kanker dan autisme.

Namun terkait hal ini, masih dalam beberapa perdebatan. Khusus terkait kanker, Ken Foster PhD, seorang professor bioteknologi dari University of Pennsylvania dalam kominfo.go.id, menjelaskan bahwa informasi adanya pancaran radiasi melalui headset memang benar adanya, namun bukan merupakan hal yang perlu ditakuti, terlebih menyebabkan kanker.

Fakta lainnya adalah dalam penelitian yang dilakukan di tahun 2018, Organisasi Kesehatan Dunia WHO, mendapatkan keadaan bahwa radiasi frekuensi radio (RF) menimbulkan dampak biologis yang mencerminkan karsinogen pada tikus jantan. Hal ini kemudian mengarah pada studi terkait radiasi terhadap manusia.

Meskipun terjadi keberagaman pendapat terkait bahaya headset khususnya tentang radiasi, memilih untuk mengurangi penggunaan sebagai bentuk mencegah akibat buruk memakai headset terlalu sering adalah salah satu solusi untuk mencegah terpapar penyakit akibat radiasi yang bisa terjadi di kemudian hari.

Penumpukan Kotoran Telinga

Penumpukan kotoran telinga adalah bahaya headset selanjutnya. Hal ini diakibatkan oleh penggunaan headset atau perangkat sejenis yang terlalu lama, sehingga kotoran dalam telinga terhambat untuk keluar, atau bahkan semakin masuk ke dalam.

Beberapa gangguan akibat penumpukan kotoran telinga yakni infeksi, iritasi, dan kesulitan dalam pemeriksaan telinga. Dalam alodokter.com, dijelaskan bahwa penumpukan kotoran telinga kering yang tidak dibersihkan secara segera memunculkan potensi infeksi akibat pertumbuhan bakteri di daerah sekitarnya.

Penumpukan kotoran telinga juga bisa saja menyebabkan dokter mengalami kesusahan dalam mendiagnosis penyakit telinga yang mungkin terjadi. Hal ini tumpukan kotoran telinga akan menyebabkan terhalangnya pandangan dokter saat melakukan pemeriksaan pada telinga.

Selain itu, pembersihan kotoran telinga kering secara tidak baik bisa menyebabkan telinga mengalami iritasi dan berpotensi terjadi luka dan pendarahan.

Headset atau perangkat sejenis lainnya memang menjadi benda yang sangat sering digunakan belakangan, dan dalam berbagai aktivitas sehari-hari. Keinginan untuk tidak menganggu orang sekitar akibat suara dari handphone atau laptop yang biasa digunakan menjadi alasan dibalik penggunaan headset, terlepas dari fungsinya untuk mengeraskan dan memfokuskan suara yang masuk ke telinga. Namun dibalik penggunaannya, bahaya headset akibat pemakaian yang berlebih juga dapat sewaktu-waktu dialami oleh siapapun.

Maka dari hal tersebut, perlu untuk memperhatikan penggunaan headset dengan benar seperti mengatur volume yang sebaiknya tidak lebih dari 60% volume maksimal, hindari penggunaan lebih dari 1 jam, dan mengistirahatkan telinga setidaknya 5 menit jika penggunaannya lebih dari 1 jam.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

EnglishIndonesianMalay
Scroll to Top