fbpx
Ilustrasi Penerapan Smartfarming 4.0
Ilustrasi Penerapan Smartfarming 4.0

Pernahkah sebelumnya anda mendengar kata Smartfarming? Teknologi yang satu ini, semakin hari semakin terkenal terkait Penerapan Smartfarming 4.0. Mari simak secara lengkap pembahasan seputar penerapan Smartfarming 4.0 di Indonesia.

Saat ini perkembangan teknologi sudah tidak bisa dipungkiri lagi. Semakin lama semakin banyak teknologi yang hadir dan sangat beraneka ragam. Teknologi tersebut dibuat sedemikian rupa dengan tujuan mempermudah kehidupan manusia.

Tak bisa dipungkiri saat ini kehidupan manusia memang tidak bisa dipisahkan dari canggihnya teknologi. Bahkan banyak jenis aktivitas yang bergantung pada teknologi, contohnya saja saat berkomunikasi jarak jauh yang memerlukan media sebagai teknologi, yaitu handphone.

Perkembangan teknologi kini sudah menjalar ke banyak bidang, mulai dari pendidikan, ekonomi, bahkan hingga Pertanian. Seperti kita ketahui bersama, pertanian di Indonesia termasuk salah satu sumber ketahanan pangan negara. Teknologi dihadiri kemudian berkolaborasi dengan pertanian diharapkan bisa meningkatkan bukan hanya kualitas tetapi kuantitas hasil pertanian.

Orang-orang berlomba-lomba, berinovasi menciptakan teknologi demi memajukan pertanian Republik Indonesia. Apalagi bangsa ini dikenal sebagai negara agraris, dimana memiliki lahan pertanian yang diharapkan bisa memenuhi ketahanan pangan seluruh masyarakat. Hal tersebut menandakan perlu penanganan yang tepat, terutama dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, membuat pengelolaan lahan pertanian seharusnya bisa dilakukan dengan mudah dan optimal.

Teknologi pertanian yang saat ini banyak digandrungi yaitu Smartfarming 4.0. Seiring dengan adanya industri 4.0, membuat banyak sektor semakin berkembang menuju versi 4.0, salah satunya ialah Smartfarming 4.0.

Sesuai dengan namanya, teknologi Smartfarming 4.0 diciptakan sebagai teknologi bertani secara pintar. Tak lagi harus bertani dengan cara manual yang bukan hanya memerlukan tenaga extra tetapi juga waktu yang relatif lama. Adanya Smartfarming 4.0 memungkinkan tersedia alat-alat dengan teknologi canggih yang akan membuat proses bertani lebih mudah dan mengoptimalkan hasil tani.

Baca Juga : Super Amazing! Kenali 5 Jenis Iklan PPC ini Untuk Bantu Bisnis Anda

Awal mula smart farming

Pertumbuhan penduduk semakin membuat populasi di Indonesia meningkat. Tak heran lama-kelamaan lahan akan terkikis untuk area pemukiman. Hingga akhirnya belakangan kita sering mendengar istilah urban farming dimana kita dapat memanfaatkan area perkotaan untuk dijadikan lahan pertanian. Hal tersebut sebenarnya belum mampu menjadi solusi yang optimal. Faktanya urban farming saja belum cukup untung menjadi sumber ketahanan pangan negara.

Saat ini istilah “smart” semakin banyak digunakan, terutama terkait teknologi canggih. Kata tersebut dapat menunjukkan seberapa canggih teknologi sehingga kayak dikatakan pintar. Pada sektor pertanian, hadir istilah teknologi bernama Smartfarming. Hadirnya Smartfarming diharapkan bisa menjadi solusi terbaik untuk mengatasi lahan yang semakin terbatas. Sektor pertanian di Indonesia diharapkan bisa semakin maju dengan hadirnya beragam teknologi yang memanfaatkan big data, machine learning, dan Internet of Things (IoT). Teknologi tersebut diciptakan demi meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil panen.

Pengertian Smartfarming 4.0

Smartfarming dikenal sebagai metode pertanian yang cerdas dengan berbasis teknologi. Teknologi yang digunakan dalam Smartfarming pada dasarnya diterapkan pada proses penanaman hingga proses panen, di antaranya drone penyemprot pestisida dan pupuk cair, Drone Surveillance (Drone untuk pemetaan lahan), Soil and Weather Sensor (Sensor tanah dan cuaca) dan masih banyak lagi. Teknologi dalam sektor pertanian semakin lama akan semakin berkembang, sehingga alat-alat canggih yang tersedia akan semakin meningkat kinerjanya, dan semakin lengkap fiturnya.

Mengutip dari wikipedia smartfarming sebagai istilah yang mengacu pada alat pertanian yang berguna untuk mengumpulkan, menyimpan, menganalisis, dan membagikan data elektronik dan / atau informasi secara digital yang kemudian dapat digunakan dalam hal memantau hasil panen. Secara umum Smartfarming 4.0 diciptakan untuk mengoptimalisasi sektor pertanian, khususnya di Indonesia. Pertanian digital mencakup berbagai teknologi, yang sebagian besar memiliki banyak aplikasi di setia proses penanaman atau proses panen.

Baca Juga : 5 Ide Konten Ramadhan untuk Social Media Marketing yang Super Engaging

Penerapan Smartfarming 4.0

Adapun berikut ini merupakan contoh Penerapan Smartfarming 4.0 :

1. Prediksi Hasil Panen

Ilustrasi prediksi hasil panen
Ilustrasi prediksi hasil panen

Penerapan Smartfarming 4.0 yang pertama ialah untuk keperluan prediksi hasil panen. Pada dasarnya hasil panen bisa diprediksi menggunakan perhitungan model matematika tertentu. Prediksi tersebut dapat dilakukan dengan menganalisa data hasil panen sebelumnya mulai dari cuaca, kandungan kimiawi, kondisi tanaman, hingga biomassa.

Sebenarnya dengan analisa semacam itu petani dapat memprediksi hasil pertanian. Hanya saja prediksi tersebut tak bisa dilakukan sembarang, diperlukan pemahaman yang tepat terkait komponen-komponen yang sebelumnya disebutkan. Smartfarming 4.0 hadir menciptakan machine learning, dimana alat tersebut memiliki peran yang cukup membantu dalam memprediksi hasil pertanian, diantaranya mencari insight dan pengambilan keputusan sesudahnya. Selain itu juga ada alat bernama sensor IoT (Internet of Things) yang bisa diletakkan di lahan pertanian, kemudian sensornya akan membantu mengumpulkan data-data komponen dan meningkatkan akurasi data tersebut.

Ketika seorang petani sudah bisa memprediksikan hasil panen menggunakan teknologi, maka penentuan jenis tanaman yang akan ditanam, lokasi, dan waktu yang tepat untuk panen bisa diketahui dengan mudah. Penerapan Smartfarming 4.0 melalui prediksi panen dapat meningkatkan produksi pertanian di daerah yang laju pertumbuhan penduduknya tinggi.

2. Manajemen Resiko

Ilustrasi manajemen resiko
Ilustrasi manajemen resiko

Penerapan Smartfarming 4.0 selanjutnya ialah manajemen resiko. Hadirnya teknologi terutama di sektor pertanian memungkinkan para petani bisa mengetahui resiko apa saja yang akan terjadi ketika proses penanaman hingga panen tiba. Dengan begitu, para petani setidaknya bisa mengantisipasi agar tetap mendapatkan hasil panen semaksimal mungkin. Manajemen resiko dapat diketahui melalui big data, sehingga resiko apapun yang berpotensi menyebabkan gagal panen di musim ini dapat segera diketahui.

Di negara-negara tetangga yang sudah melakukan penerapan Smartfarming 4.0, petaninya sudah mengetahui manajemen resiko. Faktor-faktor yang menyebabkan gagal panen, khususnya pada musim tanam bisa diketahui segera. Hal tersebut dapat membuat petani berupaya sebelumnya dalam mencegah, sehingga tidak akan terjadi kerugian.

3. Keamanan Pangan dan Pencegahan Hama

Ilustrasi keamanan pangan dan pencegahan hama
Ilustrasi keamanan pangan dan pencegahan hama

Penerapan Smartfarming 4.0 selanjutnya yaitu Keamanan Pangan dan pencegahan hama. Teknologi hadir untuk mencegah salah satu faktor penyebab kerusakan tanaman yang menyebabkan kerugian yaitu hama. Majunya teknologi memungkinkan petani untuk mendeteksi hama dan kontaminasi lainnya sedini mungkin.

Pendeteksian hama dapat dilakukan dengan mengumpulkan data berupa kelembaban udara, temperatur, dan kadar keasaman tanah terlebih dahulu. Data-data tersebut kemudian dapat digunakan oleh petani dalam memantau lahan pertaniannya.

Jika ingin pemantauan dilakukan lebih optimal, maka disarankan untuk menggunakan wireless CCTV di tempat-tempat tertentu. Sebenarnya saat ini solusi menggunakan CCTV wireless dalam menerapkan Smartfarming 4.0 belum banyak digunakan, terutama di negara-negara berkembang. Hal tersebut disebabkan oleh biaya dari alat tersebut yang cukup mahal bagi petani. Cara semacam ini baru banyak diterapkan di negara-negara maju yang sudah lama menerapkan Smartfarming.

4. Manajemen Operasional

Ilustrasi manajemen operasional
Ilustrasi manajemen operasional

Penerapan Smartfarming 4.0 yang terakhir ialah manajemen operasi. Hadirnya teknologi pada pertanian akan menyediakan alat-alat pertanian yang lebih canggih daripada sebelumnya, seperti traktor. Di negara-negara maju, terutama di Amerika Serika, alat-alat pertanian sudah dilengkapi dengan fitur IoT (Internet of Things). Sensor pada fitur tersebut akan mendeteksi data berupa bahan bakar yang diperlukan, ketika menggunakan alat tersebut.

Selain itu fitur deteksi bahan bakar, IoT juga dapat membantu petani dalam menentukan kapan waktu yang tepat untuk digunakan dan metode yang lebih tepat, contohnya saat membajak lahan pertanian. Penggunaan fitur IoT dapat dipantau menggunakan aplikasi tertentu, karena data yang dihasilkan biasanya berupa bahasa pemrograman. Dengan begitu menjalankan operasional lahan pertanian dapat dilakukan dengan mudah melalui aplikasi di smartphone.

Itulah empat contoh Penerapan Smartfarming 4.0. Keempat contoh tersebut menunjukkan bahwa petani sebagai pelaku utama sektor pertanian perlu memahami teknologi sebaik mungkin.

Baca Artikel Menarik Lainnya Hanya di bootsol

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

EnglishIndonesianMalay
Scroll to Top