fbpx

Ingin membangun E-UMKM, tapi bingung mulai darimana? Baca artikel ini dan cari tahu jawabannya!

Harus kita akui, pandemi COVID-19 membuat daya beli masyarakat Indonesia menurun. Sebagai upaya dalam mengurangi penyebaran virus, masyarakat memilih cara online untuk membeli barang kebutuhan. Terbukti dari fenomena membludaknya e-commerce, khususnya di Indonesia. Bahkan setelah COVID-19 mereda, masyarakat tetap menggunakan transaksi jual-beli online sebagai alternatif utama. Hal Ini tentunya mengancam eksistensi UMKM di Indonesia.

E-UMKM: Pahlawan Perekonomian Indonesia

E-UMKM menyelamatkan perekonomian Indonesia
Image by Cup of Couple on Pexels

Data Kementerian Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah (KUKM) tahun 2018 memperlihatkan bahwa 99,99% pelaku usaha di Indonesia merupakan pelaku UMKM. UMKM sendiri telah berkontribusi sebanyak 60% terhadap produk domestik bruto nasional.

Masalahnya, UMKM merupakan penggerak ekonomi domestik yang mengandalkan penjualan secara offline. Hanya sedikit dari total pelaku UMKM yang beralih ke sistem digital di masa pandemi. Akibatnya, mereka terpaksa memangkas biaya produksi atau memutuskan keluar dari pasar. Berdasarkan survei yang dilakukan Asian Development Bank (ADB), sekitar 88% usaha mikro di Indonesia kehabisan dana tabungan dan 60% dari mereka sudah mengurangi tenaga kerja.

Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah mendorong berbagai upaya untuk membantu UMKM melakukan transformasi digital. Harapannya, proses ini memunculkan berbagai E-UMKM yang dapat membantu pelaku usaha mikro kecil menengah dalam membentuk bisnis yang lebih efisien dan memberikan keuntungan yang lebih besar bagi usaha maupun negara.

Bagaimana Memulai E-UMKM?

Cara Memulai E-UMKM
Image by Liza Summer on Pexels

Mengutip UMKM Digital Era New Modern karya Musnaini, dkk., E-UMKM adalah perubahan struktural yang dilakukan secara bertahap, menyeluruh, dan tidak dapat dikembalikan ke bentuk semula (irreversible). Transformasi ini tak lain dilatarbelakangi oleh perkembangan teknologi, pergeseran cara komunikasi, serta perubahan gaya hidup masyarakat.

Sebelum memulai E-UMKM, pelaku usaha harus mengetahui peluang pasar dan selera konsumen saat ini. Karena bersaing di era digital, pelaku usaha juga diharapkan mampu memanfaatkan kecanggihan teknologi (internet, software, elektronik) dan mengemas usaha dalam bentuk digital. Proses ini penting karena tak hanya dilakukan pada tahap awal, namun menyangkut seluruh kegiatan bisnis seperti produksi dan pemasaran UMKM di masa depan. Terdapat lima peluang besar dalam dunia UMKM digital yaitu transportasi, jasa digital, finansial, akomodasi dan e-commerce. Kelimanya menjadi peluang dengan potensi paling besar dalam persaingan bisnis online.

Lantas, bagaimana cara membangun E-UMKM?

Baca juga: NOTED THIS! 5 Perbedaan Branding dan Marketing untuk Bisnis yang Lebih Baik

Langkah-langkah Memulai E-UMKM

1. Bangun UMKM

Membangun E-UMKM bukanlah perkara yang mudah. Untuk memulai UMKM saja, pelaku usaha bisa menemui banyak hambatan dan ancaman. Belum lagi ditambah dengan tantangan digital. Anda harus sangat jeli jika ingin bertahan di tengah persaingan E-UMKM. 

Karena itu, untuk memulai UMKM E-digital, pelaku usaha disarankan untuk memulai UMKM terlebih dahulu. Selama proses tadi dilakukan dengan benar, proses selanjutnya akan terasa lebih mudah. Untuk mencapai hasil terbaik, Anda bisa menciptakan peluang dan solusi pemasaran produk UMKM yang memanfaatkan kemajuan teknologi secara berkelanjutan. Hal ini bisa menjadi awal yang baik bagi E-UMKM Anda nantinya!

2. Ciptakan Ide yang Unik

Ide merupakan titik awal Anda memulai sebuah bisnis. Ide yang kreatif, inovatif, dan unik bisa direalisasikan dalam bentuk rancangan E-UMKM. Lalu, bagaimana cara menemukan ide yang unik dan berbeda dari kompetitor?

Ide bisnis muncul dari permasalahan yang dihadapi banyak orang. Masalah ini nantinya bisa Anda olah sebagai peluang bisnis. Karena itu pelaku usaha perlu melakukan analisis mendalam terhadap permasalahan, dampak yang dihasilkan pada pengguna atau lingkungan, dan pengkomunikasiaan solusi. Ide E-UMKM yang Anda tawarkan harus menjadi solusi bagi permasalahan target. Selanjutnya Anda bisa mempertimbangkan apakah ide tersebut layak untuk direalisasikan atau tidak.

3. Optimalkan Rencana Bisnis

Ciptakan ide yang unik!
Image by Ivan Samkov on Pexels

Setelah mendapat ide, Anda harus menuangkannya dalam rencana bisnis (business plan). Karena bisnis merupakan perjalanan yang jauh, diperlukan rencana yang memuat langkah-langkah apa saja yang akan Anda lakukan untuk sampai ke tujuan.

Menurut artikel yang dimuat youtap, rencana bisnis yang baik berisi deskripsi tentang ide bisnis, strategi pemasaran, analisis kompetitor, cash flow usaha, dan rencana bagi pengembangan bisnis di masa depan.

Berusahalah membuat business plan yang detail. Pikirkan hal-hal apa saja yang sekiranya dibutuhkan untuk merealisasikan ide bisnis. Jangan lupa untuk mengerjakan daftar rencana sesuai dengan timeline yang telah ditentukan. Meskipun dengan strategi yang sederhana, asal tepat sasaran, Anda bisa menghasilkan keuntungan yang lebih baik bagi bisnis nantinya.

4. Pahami Gaya Hidup Masyarakat

Sebuah bisnis tidak bisa hanya bergantung pada peluang. Anda harus melibatkan riset pasar atau produk sebelum menentukan bentuk atau model E-UMKM yang akan direalisasikan. Dari riset pasar, Anda bisa mengenal karakter konsumen, menyediakan produk yang tepat, menganalisis strategi kompetitor, dan meminimalisir risiko di masa depan.

Setidaknya, lakukan riset pasar sederhana untuk mengetahui gaya hidup masyarakat. Sebesar apa target konsumen? Apakah target cenderung menggunakan media sosial? Media digital apa yang sebaiknya digunakan?  Pertanyaan-pertanyaan tadi hanya bisa Anda jawab dengan melakukan riset pasar!

5. Pelajari Cara Kerja Teknologi

Langkah ini berlaku bagi semua jenis pelaku usaha. Baik yang baru memulai usaha atau yang sudah berpengalaman sekalipun. E-UMKM memang berorientasi pada sistem informasi. Di lain sisi, teknologi akan terus berkembang. Karena itu, Anda harus senantiasa mencari tahu bagaimana teknologi masa kini bekerja.

6. Pertimbangkan Orisinalitas Usaha

Tahap ini berkaitan dengan brand strategy. Pada dasarnya, konsumen akan lebih mempercayai brand dengan konsep yang unik namun tetap menjaga keasliannya. Untuk itu, Anda perlu memikirkan orisinalitas produk jika ingin tetap bersaing dan bertahan di dunia bisnis digital.

7. Jaga Konsistensi E-UMKM

Bisnis adalah dunia yang penuh dengan ketidakpastian. Ada banyak kemungkinan yang bisa atau tetap terjadi meskipun sudah diprediksi sebelumnya. Anda pasti menyadari fakta ini saat memulai usaha. Tapi satu hal yang harus Anda ketahui, konsistensi bukanlah bakat yang datang hanya karena Anda memutuskan untuk tetap bekerja keras di awal.

Bagaimanapun kondisi bisnis kedepannya, konsistensi adalah kunci sukses yang wajib Anda jaga. Memang tidak mudah, tapi bukan berarti mustahil. Konsistensi akan membuat E-UMKM lebih kreatif dalam menciptakan strategi-strategi yang tepat. Singkatnya, konsistensi mempersiapkan Anda untuk hal yang lebih besar di masa depan.

Baca juga: Influencer Marketing 101: Strategi Pemasaran Online di Era Modern

Tidak Ada Kata Terlambat!

Mulai E-UMKM Anda Bersama Bootsol!
Image by Andrea Piacquadio on Pexels

Saat ini dunia telah memasuki era digital, dimana pelaku UMKM mau tidak mau harus beradaptasi untuk bisa bertahan. E-UMKM hadir untuk menjawab keresahan para pelaku usaha. Dengan strategi yang tepat, pelaku UMKM bisa memulai transformasi digital tanpa perlu khawatir akan kesuksesan bisnisnya. 

Namun, menjalankan bisnis digital memang tidak akan semudah membalikkan tangan. Karena itu, Bootsol datang sebagai solusi digital bagi setiap pelaku E-UMKM. Bootsol menyediakan layanan 24/7 bagi pelaku usaha yang ingin mengkonsultasikan strategi atau solusi yang pas bagi bisnisnya. Klik di sini dan dapatkan berbagai kemudahan lainnya!

Leave a Comment

Your email address will not be published.

EnglishIndonesianMalay
Scroll to Top